Tips  

Pajak Jual Beli Tanah: Dasar Hukum, Besaran, dan Cara Menghitungnya

pajak jual beli tanah
Banner IDwebhost

Baca.News – Baca Berita Online Terkini menyajikan informasi terbaru tentang Pajak Jual Beli Tanah: Dasar Hukum, Besaran, dan Cara Menghitungnya.

Anda juga bisa mencari berita terkait dalam kategori Tips ini, yang selalu terupdate setiap hari.

Baca.News adalah Website Baca Berita Online Terkini yang membahas banyak hal, mulai dari, pendidikan, ekonomi, bisnis, tutorial, politik, berita nasional dan Internasional.

Setiap informasi yang dipublikasikan pada situs baca.news kami cantumkan sumber serta link dari situs terpercaya dan anda bisa mengunjungi situsnya yang pada akhir artikel ini.

Simak artikel menarik lainnya seputar Bisnis dan Ekonomi, silahkan kunjungi situs kami di bisnis.baca.news

Berikut ini berita selengkapnya yang kami rangkum di bawah ini:

Pajak Jual Beli Tanah: Dasar Hukum, Besaran, dan Cara Menghitungnya

Dalam investasi properti, khususnya jual-beli tanah, ada aturan pajak yang harus dibayarkan yang dikenal dengan pajak jual beli tanah.

Tanah adalah salah satu aset investasi yang memiliki nilai jual yang cenderung naik setiap tahunnya.

Pajak jual beli tanah adalah hasil dari kegiatan transaksi jual beli tanah.

Jenis transaksi ini juga bisa melibatkan biaya lainnya yang harus dipenuhi oleh penjual atau pembeli sesuai peraturan perundang-undangan.

Lantas, jika ingin tahu berapa persen pajak jual beli tanah, ditanggung siapa, dasar hukum, dan cara menghitungnya, ada baiknya menyimak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca Juga: 3 Jenis Investasi Jangka Pendek yang Aman bagi Pemula serta Kelebihan dan Kekurangannya

Pengertian Pajak Jual Beli Tanah

Foto: pajak jual beli tanah

Foto Jual Beli Tanah (cermati.com)

Sebelum meembahas cara penghitungan pajak penjualan tanah, penting memahami apa sebenarnya yang disebut pajak penjualan tanah atau pajak jual beli tanah ini.

Secara umum, pajak penjualan tanah merupakan pajak jual-beli tanah yang harus ditanggung oleh kedua belah ketika transaksi.

Dalam hal ini, adalah penjual dan pembeli yang memiliki besaran pajak masing-masing.

Nominalnya tergantung pada objek tanah yang diperjualbelikan kepada pihak terkait.

Jadi, masing-masing penjual maupun pembeli akan memiliki besaran pajak yang berbeda, tergantung dengan tanah yang diperjualbelikan.

Umumnya, pajak dari penjualan tanah yang ditanggung oleh penjual dan pembeli, antara lain PPh, BPHTB, PPN, biaya pengecekan sertifikat, serta jasa notaris atau PPAT.

Dasar Hukum yang Berlaku

Pajak penjualan tanah yang ada di Indonesia diatur dalam sebuah peraturan pemerintah.

Peraturan tersebut adalah Pasal 1 Ayat 1 Peraturan Pemerintah No.48 Tahun 1994 perihal Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak Atas Tanah dan Bangunan.

Tak hanya itu saja, berdasarkan Pasal 39 ayat 1 huruf G Peraturan Pemerintah No.24 tahun 1997 perihal Pendaftaran Tanah.

Jika ingin menjual tanah, maka harus melunasi pembayaran PPh terlebih dahulu sebelum pengurusan akta jual beli ke notaris.

Baca Juga: Untuk Pemula, Ini 3 Cara Investasi Emas yang Aman!

Cara Menghitung Pajak Penjualan Tanah

pajak jual beli tanah

Foto: pajak jual beli tanah

Foto Menghitung Pajak Jual Beli Tanah (medcom.id)

Setelah mengetahui apa itu pajak penjualan tanah, Moms dan Dads bisa mulai menghitung pajak tersebut.

Biasanya, terdapat empat jenis pajak yang sering digunakan.

Seperti misalnya PPh, BPHTB, PPN, hingga PBB.

Nah, berikut penjelasan lengkapnya:

PPh

Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak dari penjualan tanah yang wajib dibayarkan oleh si penjual tanah.

Pajak penjualan tanah PPh ini harus dibayarkan oleh penjual sebelum mereka mendapatkan Akta Jual Beli (AJB).

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya sengketa di atas tanah tersebut di kemudian hari.

Lantas jika ingin tahu berapa persen besaran pajak penjualan tanah, Moms bisa melihat dari aturan yang kini berlaku.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2016 perihal Tarif Baru PPh Final atas Pajak Penjualan Tanah dan Bangunan, besaran pajak untuk PPh ini adalah 2,5 persen pada setiap transaksi.

Nah, cara menghitung pajak penjualan tanah berupa PPh cukup mudah.

Misalnya, sebuah tanah telah disepakati untuk diperjualbelikan senilai Rp500 juta, maka besarnya PPh adalah?

PPh

= 2.5% x Rp500 juta

= Rp12,5 juta.

Baca Juga: Minat Beli Rumah Subsidi? Pelajari Kelebihan dan Kekurangannya!

BPHTB

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak penjualan tanah dan bangunan yang perlu dan wajib dibayarkan oleh pembeli tanah.

Awalnya, pajak ini dipungut oleh pemerintah pusat, tetapi sejak 1 Januari 2011 pajak ini dialihkan oleh pemerintah kabupaten atau kota.

Nah, besaran nilai BPHTB adalah 5% dari nilai jual objek pajak (NJOP) yang telah dikurangi oleh nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak (NPOPTKP).

Nah, nilai dari NJOP pada tiap wilayah tidak sama sesuai dengan kondisi setempat.

Misalnya, sebuah tanah yang sedang diperjualbelikan seharga Rp200 juta memiliki nilai NPOPTKP sebesar Rp100 juta.

Maka nilai BPHTB adalah?

BPHTB

= 5% x (Rp200 juta – Rp100 juta)

= 5% x Rp100 juta

= Rp5 juta

PPN

Pajak pertambahan nilai (PPN) adalah pajak yang akan dibebankan kepada pembeli, yaitu sebesar 10% dari total nilai penjualan tanah.

Namun, tidak semua pembelian tanah akan dibebankan PPN, hanya tanah yang digunakan sebagai usaha dan memperoleh keuntungan saja yang akan dikenakan PPN.

Misalnya, sebuah tanah diperjualbelikan senilai Rp250 juta, maka besarnya PPN yang ditanggung adalah?

PPN

= 10% x Rp250 juta

= Rp20 juta

PBB

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang wajib dibayarkan oleh penjual, karena ia dianggap sebagai pihak yang akan mendapatkan keuntungan dari penjualan tanah.

Dasar hukum dalam penentuan PBB adalah UU No.12 Tahun 1985 perihal Pajak Bumi dan Bangunan, yaitu sebesar 0,5%.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penentuan jumlah pajak wajib bayar.

Ini adalah nilai jual objek pajak (NJOP), nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak (NPOPTKP), serta nilai jual kena pajak (NJKP).

Besaran nilai NJKP ditetapkan berdasarkan KMK No. 201/KMK.04/2000.

Jika nilai NJOP lebih dari Rp1 miliar, maka besaran NJKP adalah 40%.

Sementara jika NJOP kurang dari Rp1 miliar, maka NJKP adalah 20%.

Misalnya, sebidang tanah yang dijual memiliki nilai Rp100 juta, maka besaran nilai PBB yang akan ditanggung oleh penjual adalah sebesar?

PBB

= 0,5% x (20% x Rp100 juta)

= 0,5% x Rp20 juta

= Rp100 ribu

Baca Juga: 13+ Rekomendasi Nama Toko yang Membawa Berkah dan Tips Memilihnya

Tips Melakukan Transaksi Jual Beli Tanah

pajak jual beli tanah

Foto: pajak jual beli tanah

Foto Ilustrasi Jual Beli Tanah (triyasa.co.id)

Selain dari pajak penjualan tanah yang dikenakan saat jual beli tanah, ada hal lain yang penting untuk di perhatikan saat melakukan transaksi tersebut, misalnya:

Moms dan Dads wajib untuk melakukan pengecekan terhadap keaslian sertifikat tanah di Kantor Pertanahan.

Pajak PPh wajib penjual lunasi sebelum mengurus surat AJB dan menerima uang dari penjualan tanah.

Pastikan menyiapkan beberapa orang sebagai saksi saat dilakukan penandatanganan surat AJB.

Hal ini untuk menghindari terjadinya sengketa atau wanprestasi di kemudian hari.

Seorang PPAT tidak akan menerbitkan AJB sebelum penjual telah melunasi PPh-nya.

Selain itu, PPAT juga tidak akan menandatangani surat AJB sebelum pembeli telah sudah melunasi pembayaran pembelian tanah.

Baca Juga: 7+ Cara Cek Tagihan Listrik, Bisa lewat WhatsApp!

Itulah yang perlu dipahami terkait pajak jual beli tanah.

Namun, jika Moms membutuhkan saran ahli mengenai hal ini, mungkin bisa meminta saran kepada ahli hukum seperti notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Kesimpulan

Itulah informasi tentang Pajak Jual Beli Tanah: Dasar Hukum, Besaran, dan Cara Menghitungnya yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat.

Sumber berita selengkapnya bisa anda akses melalui link berikut ini: https://www.orami.co.id/magazine/pajak-jual-beli-tanah