Nasehat Buat Jenderal Dudung Abdurachman

Nasehat ini sangat penting untuk Bapak KSAD Jenderal Dudung Abdurachman Mengingat Pesan yang bapak sampaikan untuk para prajurit di Papua.

Nasehat Buat Jenderal Dudung Abdurachman
Tangkapan layar video KSAD Jenderal Dudung Abdurachman saat berceramah di Masjid Nurul Amin. Video ini sebelumnya diupload Dispenad dan menjadi perhatian publik, sebelum kemudian postingan ini hilang. - (istimewa/tangkapan layar)

Assalamu'alaikum Bapak KSAD Jenderal Dudung, Kami melihat video Bapak Jenderal Dudung Abdurachman saat berceramah di Masjid Nurul Amin.  Video yang sebelumnya diupload Dispenad dan menjadi perhatian publik, sebelum kemudian postingannya hilang, entah ditelan oleh keyakinan bapak atau hilang dimakan gerhana kehidupan itu tidaklah penting bagi kami.

Bapak KSAD Jenderal Dudung Abdurachman sebaiknya bapak tidaklah terlalu dalam memberikan tausiah kepada seluruh prajurit anda, karena beberapa kali bapak berkomentar tentang agama pasti menuai persoalan di media sosial. atau sebaiknya anda boleh berbicara apasaja namun sebaiknya untuk interen kelompok bapak, jangan di sebarluaskan untuk kelompok masyarakat, terutama bagi mereka yang awam tentang agama akan menuai kebingungan.

Bapak KSAD Jenderal Dudung Abdurachman yang kami hormati, beragama itu harus mengerti sedalam-dalamnya dan menghayati serta menaati semua perintah Allah subhaanahu wata'ala, melalui kitab suci ummat islam dan riwayat hadist yang shohih.

Ketika bergama tidak sepenuhnya, yang didalam islam sendiri disebut kaffah, akan membuat seseorang akan mudah goyah ketika manusia itu diberikan sedikit ujian oleh sang pemberi hidup, mereka tidak akan mampu dan akan selalu mengumpat ketika diberikan ujian, sedangkan orang yang memiliki banyak ilmu tentang agama, orang yang kaaffah terhadap agamanya bisa di pastikan orang tersebut akan memiliki kehidupan yang mulia, dari sisi dunia dan sisi akhirat kelak.

Tidak bedanya ketika Bapak KSAD Jenderal Dudung Abdurachman membimbing para prajurit dengan berbagai ilmu beladiri, teknik berperang, teknik memasuki hutan belantara, teknik menahan lapar dan dahaga disaat berperang tentu mereka belajar dengan sungguh-sungguh dan mempelajari sepenuhnya kitab kemeliteran dan kitab pelatihan tersebut. sehingga para prajurit bisa berhasil dengan nilai yang memuaskan, mereka bisa mendapatkan pangkat yang tinggi dengan keberhasilan mereka melawan rintangan yang bapak buat dilapangan terbuka.

Mereka sukses dan menduduki jabatan serta pangkat yang tinggi bukan karena "menurunkan baleho habib rezieq shihab" namun mereka berjuang dengan susah payah melawan rintangan dan belajar dengan sungguh-sungguh tentang menyelamatkan diri di peperangan.

Bagitu juga beragama, jika kita semua sebagai manusia tidak bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama tersebut, maka yang terjadi adalah kebingungan melawan ujian yang diturunkan kepada manusia itu sendiri, dan bisa jadi akhirnya berbuat nekad, dengan membunuh dan merampok di jalanan.

Seandainya manusia di uji dengan ekonomi yang lemah, kemudia diberikan tanggungjawab anak yang masih kecil-kecil dan banyak, apa yang orang tua lakukan jika agamnya tida kaaffah, beragama tidak menyeluruh, maka nekadlah langkah awal yang diterimanya.

Namun jika manusia itu memiliki IMAN dengan didasari ILMU yang banyak, maka yang terjadi adalah rasa bersyukur mereka diberikan anak yang banyak, ekonomi pas-pasan dan lain sebagainya, orang-orang yang beriman dan memiliki cukup ilmu akan berkata :" Yaa Allah, terimaksih engkau telah memberikan rezeki yang tiada terkira dengan anak-anak yang banyak dan sehat-sehat, mungkin dengan rezeki atau dengan ekonomi yang sederhana ini akan membuat saya mudah mempertangungjawabkan kelak di akhirat." 

Rezekimu kamu kemanakan, anak-anakmu kamu ajarkan apa, dan istirmu kamu didik bagaimana, dan kamu berbuat apasaja ketika kamu hidup dalam kesusahan.

Itulah suatu gambaran sederhana bapak KSAD Jenderal Dudung Abdurachman, para prajurit akan menjadi brutal jika ilmu bela diri mereka tidak sepenuhnya, mereka akan lari dari hutan jika teknik hidup dihutan tidak sepenuhnya dipelajari, mereka akan terjun dari pesawat jika ilmu mereka, keyakinan mereka lemah karena kurangnya ilmu.

Oleh sebab itu, kita semua diperintahkan untuk terus mencari ilmu hingga sampai ketiang lahat! dan orang-orang yang merasa cukup dengan ilmunya itu adalah kesombongan.

Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Keluasan wawasan seorang santri atau pelajar  menjadikannya  sebagai penebar rahmat, kasih-sayang dan kedamaian di mana saja dia berada. Seorang santri adalah mujahid yang menekuni dan memperdalam ilmu agama.

Perintah memperdalam Ilmu Agama ini ada disebutkan dalam Al-qur'an Surah At Taubah ayat 122, Qs. Al-An’am ayat 125, Qs. Al-Mujadilah ayat 11:

 

وما كان المؤمنون لينفروا كافّة فلولا نفر من كلّ فرقة منهم طائفة ليتفقّهوا

في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلّهم يحذرون

 

Artinya:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ”. (QS. At-Taubah: 122)

من يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ومن يرد أن يضلّه يجعل

صدره ضيّقا حرجا كأنّما يصعّد في السماء

Artinya:

“Barang siapa yang Allah SWT menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangnkan dadanya untuk (mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah SWT kesesatannya, niscaya Allah SWT menjadikan dadanya sesak lagi sempit (untuk mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan Islam), seolah-olah ia sedang mendaki ke langit”. (Qs. Al-An’am: 125)

يرفع الله الّذين أمنوا منكم والّذين أوتوا العلم درجات

Artinya:

“Niscaya Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Qs. Al-Mujadilah: 11)

Dalam suatu riwayat dari Mu'awiyah Radhiyallahu anhu disebutkan, disebutkan bahwa  Rasulullah SAW bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقّهه في الدين

Artinya:

“Barang siapa dikehndaki Allah SWT dengan kebaikan (dunia dan akhirat) maka Allah akan memahamkannya dalam (urusan) agama”. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2948 dan Muslim, no. 1037).

Terima kasih KSAD Jenderal Dudung Abdurachman, anda sudah membuat kami banyak berfikir, dengan ilmu yang rendah akan mengajarkan orang untuk mencari yang rendah, dengan ilmu yang apa adanya mereka akan selalu bicara apa adanya tanpa memandang arah biacaranya itu menyakiti orang banyak.

“Barangsiapa yang menghendaki dunia, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akherat), maka hendaknya dia berilmu.

Meembuat kegaduhan di dunia media sosial juga salah satu contoh, anda tidak mampu menjaga NKRI, anda belum bisa membedakan mana agama dan mana yang nafsu belaka.

Nasihat Penting Untuk Menuntut Ilmu Secara Kaaffah

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, “ Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah ”. (Shahih Jami’ Al-Bayan 31/48, Hilyatul Auliya’ 9/119).

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “ Tidak ada suatu amal perbuatan yang lebih utama daripada menuntut ilmu kalau ia niatnya benar ”. (Miftah Daaris Saa’dah I/212).

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya mempelajari ilmu merupakan karena Allah adalah takwa kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menelitinya adalah jihad dan mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah.” Beliau juga mengatakan, “Ilmu adalah penghibur hati di saat sendiri dan sahabat karib di saat sunyi.”

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu lebih baik daripada harta, sebab ilmu akan selalu menjagamu, sedangkan engkau yang selalu menjaga harta.” (Faqih wal Mutafaqqih 1/50, Ittiba’ milik Ibnu Abdil ’Izz hal. 86, Bidayah wa Nihayah 9/47 dan I’tishom 2/358).

Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh berkata, “Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Yang demikian itu karena seseorang terkadang membutuhkan makanan dan minuman sekali atau dua kali, adapun kebutuhannya terhadap ilmu itu sebanyak tarikan nafasnya”. (Tahdzib Madarijis Saalikiin, Ar-Rusydy rahimahulloh).

Hasan Al Bashri rahimahulloh mengatakan, “Beramal tanpa ilmu itu seperti berjalan di luar jalurnya. (Apabila seseorang) beramal tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan itu lebih banyak daripada kebaikan yang diraih. Maka carilah ilmu dengan tidak mengganggu ibadah, dan beribadahlah dengan tidak mengganggu mencari ilmu. (Miftaah Daaris Sa’aadah 1/83, Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh).

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berpesan, “Jadilah alim (orang yang berilmu), muta’allim (orang yang menuntut ilmu), mustami’ (orang yang mendengar ilmu), atau muhibb (orang yang mencintai ilmu), dan janganlah menjadi orang yang kelima sehingga kamu celaka. Dia adalah orang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mendengar, dan tidak pula mencintai orang yang berilmu.” (Al-Kabaair hal. 20, oleh Imam Adz-Dzahabi). (Wardan/ Abu Ezzat El Wazira).

Wallahu 'alam bish-shawab. (*)

Salam sukses selalu untuk kita semua.