Kewajiban Menuntut Ilmu

Kewajiban Menuntut Ilmu bukan saja perintah dari yang maha kuasa, namun juga sebagai bentuk kasih sayang bagi semesta alam

Kewajiban Menuntut Ilmu
Kewajiban Menuntut Ilmu

Baca.News, Kewajiban Menuntut Ilmu bukan saja perintah dari yang maha kuasa, namun juga sebagai bentuk kasih sayang bagi semesta alam, megapa demikian?

Dengan mengikuti kewajiban kita menuntut ilmu maka alam ini akan selamat dari perilaku yang merugikan semuanya karena kurangnya pendidikan seseorang.

Dari berbagai riwayat sudah di jelaskan, bahwa menuntut ilmu itu hukumnya adalah wajib bagi umat islam, dan ini tidak menutup kemungkinan untuk seluruh mahluk Allah yang di beri akal serta fikiran.

Agama Islam di turunkan sebagai kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) dan ini hanya bisa di lakukan oleh orang-orang yang berilmu saja.

Itulah sebabnya Allah SWT dan Rasulullah SAW mewajibkan manusia agar tidak pernah berhenti belajar selama hidupnya melalui Al-Qur’an, Sunnah, maupun Hadist tentang menuntut ilmu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam pun di utus Allah untuk memperbaiki kehidupan manusia melalui ilmu dan pengetahuan sehingga mampu memberikan dampak positif di berbagai lini.

Beliau menunjukkan bahwa orang-orang yang berilmu serta beriman kepada Allah dapat membentuk akhlak yang baik, sehingga bisa mengasihi serta menyayangi alam semesta ini.

Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sahabat baca sering menjumpai orang yang memanfaatkan ilmunya untuk sesuatu yang tidak baik.

Mereka adalah golongan manusia dengan akhlak buruk yang dapat merugikan manusia dan makhluk hidup lain di sekitarnya.

Fenomena seperti ini dapat muncul karena adanya ketidak seimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama (akhlak) sehingga banyak menimbulkan dampak negatif.

Seperti yang di ungkapkan Abu Zakariya An Anbari rahimahullah:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi hal. 10)

Manusia yang memiliki pengetahuan luas tapi tidak di sertai dengan ilmu agama sama sekali, cenderung melakukan tindakan yang merusak bumi dan sesama manusia.

Itulah mengapa, Ilmu agama, adab dan akhlak yang baik harus diajarkan sedari kecil.

Kewajiban Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu sebenarnya merupakan usaha seseorang untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi sebab salah satu tujuan dasarnya adalah menunjukkan jalan kebenaran supaya manusia terhindar dari kebodohan.

Hadist Tentang Menuntut Ilmu

Agama Islam memberikan perintah menuntut ilmu kepada laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan diantara keduanya karena menuntut ilmu memiliki nilai ibadah.

Seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW:

لِاَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ اٰيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ

“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang) kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun”.

Dalam hadist lain, Nabi bersabda:

مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتّٰى يَرْجِعَ. (رواه الترمذى)

“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali.” (HR. Tirmidzi).

Kedua hadist di atas menunjukkan bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang tinggi jika dilihat dari segi ibadah. Sebab, biar bagaimanapun, ibadah yang tidak didasari dengan ilmu akan menjadi sia-sia. Syaikh Ibnu Ruslan pun menyatakan:

.وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ اَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ

“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadah) tanpa di landasi ilmu, maka segala amalnya akan di tolak, yakni tidak diterima”.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Ilmu Hadits karangan Munzier Suparta. Dalam buku nya akan menemukan penjelasan tentang berbagai hadits yang dapat dijadikan acuan.

Dengan demikian belajar ilmu agama itu lebih penting dari segalanya, mulai dari yang misnkin hingga sampai yang kaya, mulai dari petani hingga pemimpin negara memiliki kewajiban menuntut ilmu.

Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah SAW di karuniai empat sifat utama, yaitu: shiddiq, amanah, tablig dan fathanah.

  1. Shiddiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan,
  2. amanah berarti dapat di percaya dalam menjaga tanggung jawab.
  3. Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya.
  4. Fathanah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.

Menerapkan karakteristik yang di miliki oleh Rasulullah SAW, otomatis kepemimpinan pendidikan Islam akan berjalan sesuai tujuan yang ingin di capai.

Namun semua karakter di atas tidak akan kita temui jika seorang pemimpin tidak mendalami tentang ilmu-ilmu yang di ajarkan, baik di lembaga pendidikan formal maupun melalui pendidikan agama.

Keutamaan Menuntut Ilmu Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, sehingga Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW pun menyebutkan beberapa keutamaan ilmu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya:

Ilmu Sebagai Tanda Kebaikan Allah SWT

Allah memberi kemudahan kepada manusia untuk memahami serta mempelajari ilmu agar manusia paham bahwa Dia telah menghendaki kebaikan bagi dirinya dan membimbingnya pada hal-hal yang Dia ridhai.

Dengan ilmu, kehidupan seseorang akan menjadi lebih berarti, masa depannya lebih cerah, dan dia pun bisa meraih kenikmatan yang tidak pernah dirasakan di dunia. 

من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepada seorang hamba maka Ia akan difahamkan tentang agamanya.” (Muttafaq Alaihi dari Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu anhuma)

Pada kesempatan lainnya, Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عز وجل خَلَقَ خَلْقَهُ في ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عليهم من نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ من ذلك النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ

“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, Lalu Allah memberikan kepada mereka dari cahaya-Nya, maka siapa yang mendapatkan cahaya tersebut, maka dia mendapatkan hidayah, dan siapa yang tidak mendapatkannya maka dia tersesat.”

(HR. Ahmad (2/176), Tirmidzi,no:2642, Ibnu Hibban (6169),Al-Hakim dalam mustadrak (1/84), dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash. Disahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/1076).

Ilmu Sebagai Penyelamat dari Laknat Allah SWT

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّم

“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang alim atau yang belajar.” (HR.Tirmidzi (2322), Ibnu Majah (4112), dihasankan Al-Albani dalam sahih al-jami’,no(1609))

Ilmu Adalah Jalan Menuju Surga

Disebutkan dari hadist Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dalam sahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim:2699)

Hadist ini menjelaskan bahwa ketika seorang manusia keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka ia akan menjadi alasan dia masuk ke dalam surga. Dengan catatan, kamu harus mempelajari ilmu dengan penuh keikhlasan.

Dengan begitu, kamu akan lebih mudah untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang halal dan yang haram; mana yang haq dan mana yang batil; dan kamu akan terdorong untuk mengamalkan ilmu yang telah kamu pelajari.

Hal inilah yang menjadikan seorang manusia menjadi seorang hamba yang diridhai Allah SWT karena telah mengikuti bimbingan Rasul-Nya dan surga merupakan balasan dari Allah bagi hamba yang diridhai-Nya.

Kesimpualnnya

Hadist di atas adalah sebagian hadist yang kami kutip dari berbagai sumber, dan masih banyak referensi dari berbagai kitab yang bisa sahabat baca untuk memperkuat ilmu sahabat baca.news.

Semoga ini bermanfaat.