Investor Cina Bangun Smelter Nikel Senilai Rp 6 Triliun di Kabupaten Tanah Bumbu

PT Anugerah Barokah Cakrawala (ABC) melakukan peletakan batu pertama pembangunan smelter nikel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Desa Sungai Dua, Kabupaten Tanah Bumbu.

Investor Cina Bangun Smelter Nikel Senilai Rp 6 Triliun di Kabupaten Tanah Bumbu
Presiden Jokowi meresmikan pabrik biodiesel PT Jhonlin Agro Raya di kabupaten Tanah Bumbu provinsi Kalimantan Selatan pada Kamis 21 Oktober 2021. ANTARA/Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

BACA.NEWS, Banjarmasin - Investor Cina PT Anugerah Barokah Cakrawala (ABC) melakukan peletakan batu pertama pembangunan smelter nikel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Desa Sungai Dua, Kabupaten Tanah Bumbu.

Smelter yang berdiri di lahan seluas 329 hektare itu milik Jhonlin Grup bekerja sama dengan investor asal Cina.

“Hilirisasi ini perlu segera dilaksanakan mengingat nilai tambah yang akan diberikan khususnya bagi perekonomian akan bertambah,” kata Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor dalam keterangannya, Senin, 25 Juli 2022.

Sahbirin mengatakan pemerintah mendukung hilirisasi mineral. Program hilirisasi tersebut dipercaya bisa mempercepat pembangunan di tengah perkembangan industri dalam negeri.

Peresmian smelter ditandai penekanan tombol oleh pemilik PT Jhonlin Grup, Andi Syamsuddin Arsyad, didampingi Sahbirin Noor, CNGR Advanced Material Co. Ltd Teng Wei Ming, dan Chairman Of Walsin Lihwa Coorporation Mr Yu Lon Chiao.

Baca juga: 12 Kecamatan di Kabupaten Bungo Terendam Banjir

Pembangunan smelter berada satu kawasan dengan pabrik biodesel milik PT Jhonlin Agro Raya (JAR) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Oktober 2021.

Sahbirin Noor mengatakan Jhonlin Grup bersinergi dengan PT CNGR asal Cina. Menurut dia, pabrik smelter akan meningkatkan ekonomi Kalimantan Selatan.

Ia juga bilang pembangunan smelter ABC merupakan implementasi dari Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Pembangunan ini diklaim merupakan bentuk partisipasi untuk pelaksanaan Peraturan Menteri Nomor 7 Tahun 2012, yang menegaskan bahwa mulai 2014, ekspor bahan mentah tidak boleh lagi dilakukan.

"Hal ini kemudian harus disikapi dengan pembangunan industri pengolahan yang tentunya akan membuka peluang ekonomi bagi daerah,” kata Sahbirin.

Sahbirin berharap kawasan industri di Kabupaten Tanah Bumbu dapat menjadi area industri yang terpadu dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan serta partisipasi masyarakat lokal melalui pemberdayaan potensi sumber daya manusia di daerah.

“Semoga pembangunan ini dapat memberikan manfaat besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Selatan terlebih khusus di kabupaten Tanah Bumbu,” katanya.

CNGR Advanced Material Co. Ltd, Teng Wei Ming, mengatakan groundbreaking smelter tersebut merupakan langkah penting bagi perusahaan. Perusahaan tersebut berencana merealisasikan investasi dalam beberapa tahap.

Saat ini, perusahaan akan membangun empat lini produksi nickle matte berkadar rendah dengan kapasitas produksi 40 ribu ton.

“Kedepannya sesuai kebutuhan pasar dan pelanggan, kami berencana membangun nickel matte kadar tinggi, nikel sulfida, prekursor ternary dan daur ulang baterai serta membangun tatak letak industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” kata Teng Wei Ming.

Adapun CEO Jhonlin Group, Ghimoyo, mengatakan smelter nikel ini akan memberdayakan tenaga kerja lokal atau warga Kabupaten Tanah Bumbu. Menurut dia, smelter nikel tersebut bisa menyerap tenaga kerja sekitar 1.200 orang.

Dia menuturkan bahan baku atau ore nikel akal didatangkan dari dalam negeri dan sebagian dikirim dari luar negeri. Ore nikel pun bakal diolah menjadi baterai. “Investasinya sebesar kurang lebih Rp 6 triliun dan ditargetkan rampung pembangunannya 12 sampai 18 bulan ke depan,” ujar Ghimoyo.

Sumber berita: https://bisnis.tempo.co/read/1615756/investor-cina-bangun-smelter-nikel-senilai-rp-6-triliun-di-kek-tanah-bumbu