support@baca.news      +62 (851)-(5774)-5115

WANITA – Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam

WANITA – Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam

WANITA – Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam

Istri Nazar Tidak Mau Hamil Lagi

Ustadz, bolehkah seorang istri bernazar untuk tidak mau hamil lagi, lantaran rasa trauma ketika proses melahirkan sebelumnya?

Jawaban:

Bismillaah, wa-l hamdu lillaah, wa-sh shalaatu wa-s salaamu ala Rasuulillaah, wa ba’du…

Saudariku penanya, ketahuilah bahwa telah sahih periwayatan suatu hadis dari Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam- bahwa ada 7 golongan yang dianggap sebagai syahid, selain mereka yang terbunuh ketika berperang demi meninggikan kalimat Allah –azza wa jalla-, dan di antara mereka adalah sebagaimana sabda beliau –shallallaahu alaihi wa sallam-:

وَالمَرْأَةُ تَمُوْتُ بِجُمْعٍ شَهِيْدَةٌ

“Dan wanita yang meninggal karena melahirkan itu syahidah.” (HR. Malik, Abu Dawud, dan An-Nasai dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Para ulama’,- seperti Ibn Baththal, Al-Khaththabi, Al-Qurthubi, An-Nawawi, Ibn Hajar, dan selain mereka-, menerangkan bahwa yang dimaksud dengan sabda Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– tersebut adalah wanita yang wafat dalam keadaan mengandung anaknya, atau wafat disebabkan melahirkan anaknya ke dunia ini. [Lihat: Al-Mufhim, Aun al-Ma’buud, dan Hasyiyah As-Sindi]

Dan hendaknya setiap wanita meniatkan untuk menggapai pahala yang besar ketika mengandung dan kemudian melahirkan anaknya, bahkan mendidik anaknya hingga akhir hayat.

Banyak dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah yang menjelaskan betapa besar pahala yang akan diraih seorang ibu yang ikhlas.

Di antaranya adalah berbagai nas-nas yang menerangkan pahala kesabaran.

Allah –subhaanahu wa ta’aala– berfirman:

﴿َإِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ﴾

Hanya orang bersabarlah yang akan disempurnakan pahalanya tanpa batas… [QS. Az-Zumar : 10]

Ibn Katsir –rahimahullaah– ketika menafsirkan ayat ini mengatakan:

“Ayat ini mencakup seluruh jenis kesabaran … Allah –azza wa jalla– menjanjikan pahala tanpa batas bagi mereka yang bersabar, tanpa perhitungan, atau pun pengukuran. Hal itu dikarenakan keutamaan sabar yang sangat besar di sisi Allah –azza wa jalla-, dan hanya Dialah Yang Mahamampu memudahkan segala urusan.” [Lihat: Tafsiir al-Qur’aan al-Azhiim]

Berikutnya adalah berbagai nas yang menunjukkan hak yang sangat agung yang dimiliki seorang ibu atas anak-anaknya. Nas-nas ini sangat masyhur, sehingga tidak perlu kami paparkan satu persatu di sini. Akan tetapi intinya, tidaklah demikian besar hak yang dimiliki seorang ibu, melainkan dilandasi berbagai kesulitan yang ia hadapi demi mengandung, melahirkan, serta mendidik anak-anaknya.

Saudariku muslimah, sengaja tanpa alasan yang syar’i untuk sama sekali tidak hamil atau berketerununan, adalah hal yang terlarang dalam agama ini, walaupun dengan kesepakatan antara suami dan istri. Hal itu dikarenakan ia bertentangan dengan anjuran syariat untuk memperbanyak jumlah umat ini, yang mana anjuran ini memiliki banyak sekali hikmah yang mulia di baliknya.

Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda:

تَزَوَّجُوْا الوَلُوْدَ الوَدُوْدَ، فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Nikahilah –oleh kalian wahai para lelaki- wanita yang subur nan penyayang, karena aku akan berbangga akan banyaknya jumlah umatku di Hari Akhirat kelak…” [HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasa’i]

Adapun jika trauma yang anda alami memang disebabkan karena rasa sakit yang membahayakan anda atau janin anda yang berikutnya, atau karena alasan-alasan medis lainnya, maka anda diperbolehkan untuk berhenti dan tidak hamil kembali. Dan jangan khawatir akan pahala anda sebagai seorang ibu, tetaplah ikhlas mendidik anak-anak yang sudah Allah –azza wa jalla– karuniakan kepada anda, dan yakinlah bahwa Allah –ta’aala– adalah Mahaluas karunia-Nya.

Poin berikutnya adalah persoalan nazar.

Nazar secara umum adalah hal yang tidak disukai oleh Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam. Namun jika telah terucap, maka ia wajib dipenuhi, jika tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah –azza wa jalla. Adapun nazar yang mengandung maksiat, maka ia wajib dibatalkan, dan yang mengucapkannya wajib membayar kaffarah.

Kembali kepada penyebab trauma tadi, jika memang ia trauma yang disebabkan oleh sebab yang syar’i, seperti alasan medis dan lain sebagainya, maka hukum nazar adalah tidak dianjurkan, namun ia harus dipenuhi jika telah terucap, dan wajib membayar kaffarah jika kemudian melanggar kandungan nazar tersebut.

Adapun jika trauma itu tanpa alasan yang kuat dan tidak membahayakan, maka nazar tersebut tidaklah boleh diucapkan, dan jika terlanjur terucap maka ia tergolong sebagai nazar maksiat. Dan yang wajib bagi anda adalah beristighfar, mengingat kembali keutamaan-keutamaan yang Allah –azza wa jalla– janjikan bagi anda sebagai ibu, dan anda harus membatalkan nazar tersebut sembari membayar kaffarah pembatalan nazar yang ukurannya sama dengan kaffarah pembatalan sumpah.

Dan ukuran kaffarah tersebut adalah memberi makan 10 orang miskin, atau memberi pakaian kepada mereka, atau membebaskan seorang budak. Jika anda tidak mampu melaksanakan salah satu dari 3 opsi di atas, maka anda diwajibkan berpuasa selama 3 hari.

Saudariku, ibu adalah status yang sangat mulia di sisi Allah –azza wa jalla– dan Rasul-Nya –shallallaahu alaihi wa sallam-. Ketika rasa sakit atau kesulitan melanda anda, hendaklah anda mengingat berbagai janji dan keutamaan yang akan anda raih sebagai seorang ibu. Yakinlah bahwa Allah Mahaadil dan Maha Mengetahui, dan Allah –subhaanahu wa ta’aala- tidak akan menyia-nyiakan kesabaran anda atas berbagai kesulitan yang anda hadapi sebagai seorang ibu. Semoga Allah –azza wa jalla– memudahkan urusan anda, serta seluruh ibu kaum muslimin.

Wallaahu a’lam, semoga penjelasan di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Amalan Berpahala Besar yang Bisa Dilakukan Oleh Ibu Rumah Tanggahttps://konsultasisyariah.com/36029-amalan-berpahala-besar-yang-bisa-dilakukan-oleh-ibu-rumah-tangga.html Tue, 10 Dec 2019 02:25:06 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=36029Amalan Pahala Besar yang Bisa Dikerjakan Ibu Rumah Tangga

Assalamu’alaikum Selamat pagi ustd Amalan sunnah apakah yg besar pahalanya jika dikerjakan setiap hari bagi wanita Khusus nya ibu rumah tangga. Jazakumullah

Ida di batu aji batam Kepulauan Riau

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya . Amma Ba’du:

Perjalanan hidup kita adalah waktu sesaat menuju kehidupan akhirat tempat dibalasnya segala amalan, Surga sebagai tempat menetap atau Neraka menjadi tempat kembali. Itu semua sesuai dengan amalan yang kita kerjakan di dunia.

Karena akhirat waktunya tiada berujung, didunia tempat berladang amalan dengan waktu yang terbatas, artinya kita harus mencari amalan-amalan yang memberi kita nilai pahala yang besar.

Amalan apakah yang besar pahalanya?

Mari kita bersama mencoba untuk memahami dan mencari jawabannya dalam uraian berikut ini:

  • Keyakinan adalah amalan, bahkan nilai keyakinan lebih tinggi dari sekedar amalan badan; Tauhid kita yang benar, keimanaan kita akan keesaan dan keagungan Allah Ta’ala dengan Nama dan Sifat-Nya yang Maha Suci tiada serupa dengan makhluk-Nya, adalah amalan terbesar bagi seorang muslim, bahkan seluruh amalan berasal darinya. Sebagian dari kita telah mengetahui hadits Bitaqah (kartu) yang timbangan nilai kebaikannya lebih besar dari cacatan amal sejauh mata memandang, itu dengan jelas menunjukkan tingginya nilai pahala dari sebuah keyakinan.
  • Amalan wajib lebih besar pahalanya dari amalan sunah, sholat Isya di Bulan Ramadhan lebih besar pahalanya dari pahala shalat tarawih, walaupun rakaatnya lebih banyak. dst.
  • Amal Jariyah yang pahalanya terus mengalir lebih besar nilainya dari pahala amalan yang sifatnya satu kali dilakukan selesai. Seseorang yang mengajarkan ilmunya akan mendapatkan pahala yang lebih banyak dari yang menyedekahkan hartanya untuk fakir miskin; karena ilmu yang diajarkan efeknya berkelanjutan. Bahkan sampai sekarang Abu Hurairah radiyallahu anhu akan mendapatkan pahala dari hadits yang dia riwayatkan.

Setelah membaca uraian diatas, apakah yang bisa dilakukan oleh seorang istri untuk menambah pundi-pundi pahalannya dari amalan yang wajib ataupun sunnah?

Allah Ta’ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (An Nisaa,34)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa wanita yang sholihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan melaksanakan kewajiban kepada suaminya. Artinya ketaatan seorang istri memiliki dua sisi, ibadah dia pribadi kepada Allah Ta’ala dan ibadah dia dalam hubungannya dengan sesama, dan hak yang paling tinggi atas seorang istri, adalah hak suami dan diikuti oleh hak dan kewajiban yang lain.

Seorang wanita yang telah menjadi seorang istri dia memiliki lahan untuk beramal, berikut kita mencoba mengenal sebagian darinya.

  1. Ibadah kepada Allah, dia melaksanakan kewajiban kemudian diikuti dengan amalan-amalan yang sunnah. Hal yang paling mudah dilakukan seorang wanita di rumah adalah membaca dan menghafalkan al-Quran serta memahami kandungannya, memperbanyak dzikir dan ini sangat mudah, bisa sambil masak atau sambil mencuci, begitu pula mendengarkan murattal al-Quran atau rekaman pengajian.
  2. Ibadah sebagai istri, dia memenuhi kewajibannya sebagai istri; melayani suami adalah ibadah, menyiapkan makan suami adalah pohon pahala, mencuci pakaian suami adalah celengan amal yang terus bertambah tiap hari; lakukan semua itu dengan sabar dan mengharap pahala dari-Nya.
  3. Ibadah sebagai ibu, dia mengurus anak dan mendidiknya, bisa menjadi pahala yang kelipatannya tiada terhingga. Jika dia mengajarkan anaknya surat al-Fatihah; setiap anaknya tersebut shalat dia mendapatkan pahala, anaknya mengajarkan cucunya, cucunya mengajarkan anaknya, dan seterusnya; artinya rantai pahala dari mengajarkan surat al-Fatihah terus bersambung.
  4. Ibadah sebagai anak dan menantu, walaupun dia sebagai istri, hak kedua orang tua untuk mengabdi tetap ada, dan ditambah lahan baru yaitu berbuat baik kepada mertua. Ketahuilah bahwa kesabaran seorang istri jika mertua tinggal bersama dirumahnya, adalah amalan bagi suami dan dirinya.
  5. Ibadah sebagai anggota masyarakat, bukankah Nabi mengajarkan kalau masak diperbanyak kuahnya, agar tetangga tidak hanya merasakan bau, tapi saling membagi dan saling mencicipi, yang menunjukkan ikatan sebagai anggota masyarakat, yang saling menopang satu dengan yang lain. Dalam hal ini, seorang ibu rumah tangga bisa membuka tempat belajar Al-Quran kecil-kecil dirumahnya, kalau keahliannya pada bidang yang lain seperti Bahasa Arab atau Bahasa Inggris, dia membuat les gratis, terutama untuk anak-anak tetangga yang tidak mampu.

Ini adalah sebagian contoh ibadah yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga di rumah. Semoga dapat memberikan gambaran umum bahwa ibadah yang dilakukan oleh seorang wanita di rumahnya sangatlah beragam dan lahan tanamannya bervariasi.

Semoga Allah Taala selalu memberi petunjuk kepada kita untuk melakukan amal-amal yang membawa kita ke Surga. Amin Ya Rabbalalamin!

***

Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Kapan Wanita Nifas Mulai Sholat?https://konsultasisyariah.com/36011-kapan-wanita-nifas-mulai-sholat.html Wed, 04 Dec 2019 02:27:03 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=36011Kapan Wanita Nifas Mulai Sholat?

Mau tanya ust, yg mnjd tolak ukur mulai wajib sholat lagi bagi wanita yg mengalami nifas itu selama darah itu berhenti atau ada batas waktu maksimal nya ya..? Trmksh atas penjelasannya pak ust…

Hamba Allah, di Bantul.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du..

Tolak ukur wanita yang nifas wajib melaksanakan sholat kembali tergantung pada dua kondisi berikut :

[1]. Jika darah nifas berhenti sebelum batas waktu maksimum keluarnya darah nifas. Maka dengan berhentinya darah nifas dan munculnya tanda suci, dia menjadi wajib shalat kembali.

Karena tidak ada batasan waktu minimum untuk keluarnya darah nifas.

Tanda sucinya adalah : keringnya kemaluan atau keluar cairan bening.

[2]. Jika darah nifas keluar melebihi waktu maksimum, maka melebihi waktu maksimum keluarnya darah nifas itu adalah tanda dia wajib sholat kembali.

Kemudian darah yang keluar setelah itu dihukumi sebagai darah istihadhoh. Tentang darah istihadhoh bisa anda pelajari pada link dibawah ini:

Bagaimana Wanita Istihadah Bersuci?

Berapa Batas Waktu Maksimumnya?

Batasan waktu maksimum keluarnya darah nifas adalah empat puluh hari, menurut mayoritas ulama (jumhur). Sehingga darah masih keluar melebihi empat puluh hari, tak lagi dihukumi darah nifas, tetapi sebagai darah istihadhoh.

Imam Abu Isa at Tirmidzi rahimahullah menukil adanya ijmak sahabat dalam hal ini,

أجمع أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن النفساء تقعد عن الصلاة أربعين يوماً، إلا أن ترى الطهر قبل ذلك، فتغتسل وتصلي

Pada ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersepakat bahwa wanita yang mengalami nifas, diizinkan tidak melakukan sholat selama empat puluh hari. Kecuali jika dia suci sebelum itu, maka dia langsung mandi besar kemudian sholat.

Abu ‘Ubaid rahimahullah mengomentari

وعلى هذا جماعة الناس

Pendapat ini dipegang oleh sejumlah ulama.

(Dikutip dari fatwa Islamway.net)

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Batasan Wanita Boleh Bekerjahttps://konsultasisyariah.com/35670-batasan-wanita-boleh-bekerja.html Tue, 08 Oct 2019 02:17:23 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=35670Hukum Wanita Muslimah Bekerja

Assalamu’alaikum, afwan ustadz ada keluarga yg kondisi keuangannya sangat minim sekali. Nah kebetulan sang istri berniat untuk membantu ekonomi suaminya. Pertanyaannya bagaimana batas-batas wanita boleh bekerja ustadz. Syukron

Jawab:

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du.

Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia dengan melihat seluruh sisinya secara berimbang, dan meletakkan tugas dan fungsi sesuatu sesuai tabiatnya. Membangun umat Islam dimulai dari membangun pondasi dasarnya, yang merupakan kumpulan terkecil dalam suatu masyarakat, yaitu keluarga.

Kesepakatan seorang laki-laki dan perempuan menjadi suami istri untuk membangun sebuah keluarga, artinya mereka telah membagi tugas dan wewenang, sehingga keutuhan rumah tangga bisa terbangun dengan baik. Pekerjaan mencari nafkah diluar rumah adalah pekerjaan suami dan pekerjaan di dalam rumah, mengurus rumah tangga serta mendidik anak adalah tugas pokok istri; seorang ibu rumah tangga adalah seorang pekerja, dia bekerja untuk menghasilkan manusia yang beriman dan unggul.

Kalau kita perhatikan secara mendalam, pekerjaan bapak adalah mencari nafkah, nafkah untuk keluarga, pekerjaan ibu adalah guru dan outputnya adalah manusia; bukankah sumber daya manusia lebih tinggi nilainya dari uang dan gaji yang didapatkan oleh seorang suami?

Asal dari pembagian kerja adalah laki-laki diluar rumah dan perempuan bertugas di dalam rumah tangga. Lalu, apakah hukumnya wanita keluar dari kondisi ini, dimana seorang istri atau seorang ibu harus bekerja di luar rumah?

Mari kita ambil petunjuk dari firman Allah ta’ala di dalam surat Al-Qashash 23-26:

{وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (24) فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (25) قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَاأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)} [القصص: 23 – 26]

23. Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

 24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

 25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

 26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

Kisah di atas memberikan petunjuk kepada kita bagaimana wanita jika bekerja di luar rumah, mari kita perhatikan point-point berikut:

  1. Dua orang perempuan dalam kisah tersebut bekerja di luar rumah yaitu membawa kambing gembalaan mereka untuk minum dari mata air, ini menunjukkan bolehnya wanita bekerja di luar rumah. Dan ini juga ditunjukan oleh hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1483, bahwa Bibinya Jabir ketika menjadi janda, dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihissalam tentang pekerjaannya mengairi kebun korma miliknya, maka Nabi menyetujuinya.
  2. Mereka berdua bekerja karena kebutuhan yang disebabkan bapak mereka sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, artinya perempuan bekerja diluar rumah karena adanya kebutuhan untuk itu.
    Kebutuhan seorang wanita kerja diluar rumah terbagi menjadi dua, kebutuhan dia untuk mencari nafkah karena tidak ada atau kurangnya nafkah hidupnya dan kebutuhan masyarakat akan tenaga khusus wanita, seperti guru-guru perempuan, dokter kandungan perempuan dan yang serupa dengannya.
  3. Pekerjaan keduanya adalah membawa kambing gembalaan menuju tempat mata air untuk mendapatkan minum, dan pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh wanita dan tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita.
    Wanita ketika bekerja di luar rumah dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiatnya, tidak bekerja pada bidang pekerjaan berat yang hanya cocok untuk laki-laki, seperti pertukangan dan pertambangan.
  4. Mereka menunggu kaum laki-laki selesai memberi minum hewan ternak mereka, setelah itu baru mereka memberi minum hewan ternak mereka. Artinya mereka menjauhi bercampur baurnya laki-laki dan perempuan di tempat kerja.
    Seorang wanita tidak boleh bekerja di tempat kerja yang dia khalwat berduan dengan seorang laki-laki seperti menjadi sekertaris, atau terjadi ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan pada satu tempat) yang terprogram, dalam arti dia bersama laki-laki bukan muhrim dalam satu ruangan walaupun tidak berduaan sepanjang waktu kerja.
    Adapun ikhtilat yang hanya terjadi sebentar dan berganti seperti jualan di pasar, maka hal tersebut diperbolehkan oleh para ulama.
  5. Allah ta’ala menyebutkan bahwa dia berjalan malu-malu, ini menjelaskan bahwa seorang wanita jika bekerja di luar rumah dia harus menjaga akhlak dan adabnya sebagai wanita. Dia harus berpakaian syar’i, tidak berdandan atau memakai parfum yang menarik perhatian lawan jenis.
  6. Keduanya menceritakan kepada Nabi Musa bahwa orang tua mereka mengajaknya untuk dating ke rumah mereka.
    Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja di luar atas pengetahuan dan ijin dari orang tua mereka.
    Jika seorang wanita bersuami, maka dia bekerja setelah mendapatkan ijin suaminya, jika tinggal bersama orang tuanya, maka dia harus meminta ijin orang tuanya.
  7. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar Nabi Musa bekerja dengan orang tua mereka.
    Seorang wanita jika ada yang mengantikan pekerjaan mereka di luar rumah, maka ia kembali kepada tugas asalnya yaitu mengurus pekerjaan di dalam rumah.
    Dan ini menunjukkan bahwa pekerjaan seorang wanita diluar adalah sesuai dengan kebutuhan dan kalau kebutuhan selesai maka dia kembali.
    Dan dapat dipahami bahwa tidak boleh bekerja diluar rumah yang melalaikan dari tugas pokoknya di dalam rumah.

Setelah kita bersama kisah Nabi Musa dan dua orang perempuan di negeri Madyan, kita dapat menjawab pertanyaan diatas, bahwa seorang wanita boleh bekerja di luar rumah dengan syarat sebagai berikut:

  1. Seorang wanita bekerja di luar rumah apabila ada kebutuhan untuk itu, tanpa melalaikan tugas pokoknya di dalam mengurus rumah tangga.
  2. Dia bekerja setelah mendapatkan ijin dari suami atau orang tuanya, jika tinggal bersama mereka.
  3. Dia bekerja pada bidang yang sesuai dengan tabiat perempuan.
  4. Dia bekerja pada tempat kerja yang tidak ada khalwat atau ikhtilat.
  5. Menjaga adabnya sebagai wanita Muslimah dan menjauhi hal yang terlarang seperti berdandan dan memakai parfum.

Semoga Allah ta’ala memudahkan urusan kita semua dan memberikan taufiq dan hidayah kepada wanita-wanita dalam pekerjaan di rumah mereka, untuk melahirkan generasi Islam yang tangguh. Wallahu a’lam.

***

Dijawab oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Bolehkah Wanita Berwudhu Hanya Mengusap Kerudung Ketika Mendesak?https://konsultasisyariah.com/35568-bolehkah-wanita-berwudhu-hanya-mengusap-kerudung-ketika-mendesak.html Tue, 17 Sep 2019 02:25:13 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=35568

Hukum Mengusap Kerudung Saat Wudhu

Di kondisi mendesak, dmn wudhu di tmpt umum, tdk ada Wudhu khusus utk perempuan, kmd tdk ada kamar mandi jg , apakah boleh wanita ckp mengusap kerudung sebagai ganti mengusap kepala?

Abu Hammam, di Bantul.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam membolehkan bagi laki-laki yang memakai imamah; yaitu penutup kepala berupa lilitan kain, untuk mengusap imamah saat berwudhu, sebagai ganti mengusap kepala.

Dari sahabat Amr bin Umayyah, beliau mengabarkan,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى عِمَامَتِهِ وَخُفَّيْهِ

Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengusap imamah dan khuf beliau. (HR. Bukhori)

Dalil yang lain, adalah hadis Bilal bin Robah radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَالْخِمَارِ

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengusap kedua khuf dan khimaar. (HR. Muslim)

Khimar adalah penutup kepala, diantara bentuknya adalah imamah dan kerudung wanita. Disebut khimaar karena,

تخمر الرأس

Takhmuru Ar-Ro’s

Menutupi kepala…

(Lihat : https://islamqa.info/amp/ar/answers/148129)

Dan hukum asal syariat, berlaku untuk semua umatnya, sampai ada dalil tegas yang menjelaskan pengecualian. Termasuk dalam hal ini, syariat pengusapan penutup kepala. Yang tersebut dalam hadis di atas adalah penutup kepala laki-laki/imamah. Namun kabar tersebut, tidak menunjukkan pengkhususan karena tidak adanya dalil tegas yang menjelaskan tersebut. Maka kembali kepada hukum asal keberlakuan syariat, yaitu berlaku umum, kepada laki-laki dan perempuan.

Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa, boleh bagi seorang wanita yang memakai kerudung/hijab, mengusap kepalanya saat berwudhu. Terlebih, jika kondisi mendesak seperti yang disebutkan pada pertanyaan. Inilah pendapat yang dipilih oleh Mazhab Hambali yang kami pandang kuat. Selain mazhab Hambali, ulama lain yang sependapat dengan kesimpulan ini adalah Imam Ibnu Hazm, beliau menegaskan dalam kitab karyanya yang berjudul “Al-Muhalla”,

وكل ما لُبس على الرأس من عمامة أو خمار أو قلنسوة أو بيضة أو مغفر أو غير ذلك : أجزأ المسح عليها ، المرأة والرجل سواء في ذلك ، لعلة أو غير علة

Setiap penutup yang dipakaikan di kepala, seperti imamah, khimar (kerudung), kopyah, mighfar (penutup kepala dalam pakaian perang) atau lainya, boleh diusap saat berwudhu. Laki-laki dan perempuan berlaku sama dalam hal ini. Boleh mengusap baik karena alasan kebutuhan ataupun tidak. (Al-Muhalla, 1/303).

Alasan yang lain, wanita dibolehkan mengusap khuf sebagaimana pria. Maka demikian pula yang berlaku dalam mengusap penutup kepala. Seperti diterangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

والنساء يدخلن في الخطاب المذكور تبعاً للرجال كما دخلن في المسح على الخفين.
ولأن الرأس يجوز للرجل المسح على لباسه فجاز للمرأة كالرجل ،

Wanita termasuk yang dibolehkan mengusap penutup kepala oleh hadis tersebut, mengikuti laki-laki. Sebagaimana mereka dibolehkan mengusap khuf. Kemudian mengingat laki-laki boleh mengusap pakaian penutup kepala, maka demikian pula boleh bagi perempuan sebagaimana laki laki. (Syarah Al-Umdah, 1/265-266, dikutip dari Islamqa).

Kemudian, tujuan dari syariat mengusap imamah ini adalah, memberikan keringanan (rukhsoh). Wanita lebih layak mendapatkan keringanan ini karena kerepotan yang mereka rasakan saat harus mengusap kepala ketika memakai kerudung, lebih besar daripada laki-laki yang memakai imamah. Karena:

– Rambut wanita adalah aurat, adapun rambut laki-laki bukan aurat.

– Kerudung/hijab menutupi seluruh bagian kepala, sementara imamah tidak.

– Kerepotan yang mereka rasakan pada kerudung lebih besar daripada memakai khuf. Sementara mereka dibolehkan mengusap khuf, karena alasan keringanan. Menunjukkan bahwa mengusap kerudung demi keringanan, lebih berhak lagi.

Syakhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

ولأنه لباس يباح على الرأس يشق نزعه غالباً فأشبه عمامة الرجل وأولى ؛ لأن خمارها يستر أكثر من عمامة الرجل ، ويشق خلعه أكثر ، وحاجتها إليه أشد من الخفين .

Karena kerudung/hijab adalah pakaian yang boleh dipakaikan pada kepala, sehingga disamakan dengan imamah. Bahkan kerudung/hijab itu lebih utama menadapatkan keringanan ini. Karena kerudung/hijab menutupi lebih banyak bagian kepala daripada imamah. Susah mencopotnya. Kebutuhan para wanita untuk dibolehkan mengusap kerudungnya, lebih besar dari kebutuhan bolehnya mengusap khuf. (Syarah Al-Umdah, 1/265-266, dikutip dari Islamqa).

Namun, untuk kehati-hatian, sebaiknya tidak mengusap kerudung kecuali saat kondisi mendesak. Selama masih mampu wudhu secara normal, maka sebaiknya kita lakukan. Meski harus masuk ke kamar mandi.

Baca : Bolehkah Wudhu di Kamar Mandi?

Bolehkah Wudhu di Kamar Mandi?

Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وعلى كُلِّ حالٍ : إِذا كان هناك مشقَّة إِما لبرودة الجوِّ ، أو لمشقَّة النَّزع واللَّفّ مرَّة أخرى : فالتَّسامح في مثل هذا لا بأس به ، وإلا فالأوْلى ألاَّ تمسح ، ولم ترد نصوصٌ صحيحة في هذا الباب

Kesimpulannya, jika pada mengusap kepala itu ada kerepotan, seperti karena cuaca dingin, atau karena susahnya mencopot dan memakainya kembali, maka mentolerir pada kondisi seperti ini tidak mengapa. Namun jika tidak ada kerepotan, sebaiknya tidak. Karena tidak adanya dalil yang shohih (yang tegas) tentang masalah ini. (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 11/171).

Demikian.

Wallahua’lam bis showab.

***

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Melakukan Hubungan Badan Sebelum Istri Mandi Wajib Setelah Haidhhttps://konsultasisyariah.com/35166-melakukan-hubungan-badan-sebelum-istri-mandi-wajib-setelah-haidh.html Tue, 16 Jul 2019 01:16:13 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=35166

Melakukan Hubungan Badan Sebelum Istri Mandi Wajib

Pertanyaan:
Bagaimana hukum melakukan hubungan intim, tetapi belum mandi junub setelah haidh ?

Jawaban:

Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah,

Saudara-saudariku, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua,

Pada dasarnya, hubungan intim terlarang dilakukan saat seorang wanita masih dalam masa haidh, berdasarkan firman Allah ﷻ:

(ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن…)

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh, katakanlah “itu adalah sesuatu yang kotor”, karena itu jauhilah istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci, apabila mereka telah suci, campurilah mereka…” (QS. Al-Baqarah: 222).

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

ونهي عن قربانهن بالجماع ما دام الحيض موجودا, ومفهومه حله إذا انقطع

“dan (Allah ﷻ) melarang untuk mendekati mereka (para istri) dengan melakukan jima’ (hubungan badan) selama haid masih ada, dan bisa dipahami bahwa: jika haid telah selesai maka kembali menjadi halal” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/439).

Setelah selesai masa haid dan berhenti darahnya, maka seorang wanita diwajibkan untuk melakukan mandi untuk menyucikan dirinya. Agar ia kembali bisa melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditinggalkan selama masa haidh, seperti sholat, puasa, dan melayani suaminya dengan berhubungan badan.

Maka mayoritas para ulama seperti Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’I, Mazhab Hambali dan lainnya menjadikan mandi wajib setelah haid sebagai syarat dibolehkannya melakukan hubungan intim, sebagaimana Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

أن وطع الحائض قبل الغسل حرام, وإن انقطع دمها في قول أكثر أهل العلم

“Bahwa sesungguhnya berhubungan intim dengan wanita yang sedang haid sebelum melakukan mandi wajib hukumnya haram, walaupun darah haid nya telah berhenti, sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli ilmu” (Al-Mughni: 1/384).

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

لا يجوز وطء الحائض والنفساء حتى يغتسلا, فإن عدمت الماء أو خافت الضرر باستعمالها الماء لمرض أو برد شديد تتيمم, وتوطأ بعد ذلك, بقوله تعالى: (ولا تقربوهن حتى يطهرن) أي ينقطع الدم, (فإذا تطهرن): اي اغتسلن بالماء.

“Tidak boleh behubungan intim dengan wanita haid dan nifas sampai melakukan mandi wajid, apabila air tidak ada atau wanita tersebut ditakutkan terjadinya bahaya jika menggunakan air karena sakit atau dingin yang sangat maka hendaklah ia ber-tayammum, dan dibolehkan melakukan hubungan intim setelah itu, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci” yaitu: berhentinya darah haid, “Maka apabila mereka telah suci” yaitu: mereka telah melakukan mandi wajib”. (Majmuatul Fatawa: 11/359).

Ketika menafsirkan firman Allah:

(فإذا تطهرن فأتوهن)

“Apabila mereka telah bersuci maka campurilah mereka.”

Para Ulama Tafsir dari kalangan sahabat seprti Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma mengatakan:

إذا اغتسلن…. فشرط لأباحة الوطء شرطين: انقطاع الدم والاغتسال, فلا يباح إلا بهما

“(Yaitu) apabila mereka telah melakukan mandi wajib”, Maka beliau (Ibnu Abbas) mensyaratkan bolehnya melakukan hubungan intim dengan 2 syarat; 1. Berhentinya darah haid, 2. Mandi wajib, maka tidak dibolehkan melakukan hubungan intim keculi jika dua syarat tersebut sudah terpenuhi”. (Al-Mughni: 2/384).

Namun Mazhab Hanafi dalam hal ini menyatakan pendapat yang berbeda:

“قالو: يحل للرجل أن يأتي امرأته حتى انقطع دم الحيض والنفاس لأكثر مدة الحيض وهي عشرة أيام كاملة, ولأكثر مدة النفاس, وهي أربعون يوما, وإن لم تغتسل.

“Mereka berkata: Dibolehkan bagi laki-laki mendatangi istrinya jika telah berhenti darah haid dan nifas yaitu setelah berlalunya batasan waktu terlama haid 10 hari, dan waktu terlama untuk nifas 40 hari, walaupun belum melakukan mandi wajib” (Al-Fiqhu ‘alal Mazahibil ‘Arba’ah: 73).

Hanya saja, mayoritas para ulama menyatakan bahwa pendapat mazhab Hanafi di sini sangat lemah, dan yang rajihnya adalah pendapat yang mengatakan bahwa mandi wajib merupakan syarat bolehnya mencampuri istri setelah berhenti darah haidnya, sehingga jika sepasang suami dan istri melakukan hubungan badan sebelum syarat ini terpenuhi maka hukumnya haram.

Wallahu A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Sering Keluar Cairan Saat Hamil, Bagaimana Shalatnya?https://konsultasisyariah.com/35099-sering-keluar-cairan-saat-hamil-bagaimana-shalatnya.html Fri, 28 Jun 2019 02:16:12 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=35099Hukum Shalat Bagi Wanita Hamil yang Sering Keluar Cairan

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya mau Tanya: Saya sedang hamil dan sering keluar cairan dari vagin*, apakah sah kalau saya Sholat ? lalu apa yang harus saya lakukan jika cairan itu keluar terus ?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam, Bismillahi wassholatu wassalamu ala Rasulillah,

Saudariku yang mulia, cairan yang keluar ketika masa hamil dan belum memasuki masa-masa melahirkan, perlu diperjelas jenis-jenisnya, apakah ia berupa darah atau berupa cairan bening atau putih keruh kekuning-kuningan.

Maka dalam hal ini kemungkinan ada 2 jenis cairan:

1. Darah (darah haidh atau darah kotor/rusak/penyakit)

Muncul pertanyaan, apakah wanita hamil bisa haidh? Para Ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi 2 pendapat:

Pendapat Pertama: Wanita Hamil bisa Haidh, hal ini merupakan pendapat Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Al-Laitsi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin

وقال مالك والشافعي والليث : ما تراه من الدم حيض إن أمكن, وروي ذلك عن الزهري وقتادة وإسحاق؛ لأنه دم صادف عادة, فكان حيضا كغير الحامل

“Imam Malik, Imam As-Syafi’I dan Imam Al-Laitsi berkata: Darah yang terlihat oleh wanita yang sedang hamil maka itu adalah darah haidh jika hal tersebut memungkinkan, dan hal tersebut telah diriwayatkan oleh Az-zuhri, Qotadah, dan Ishaq ; karena ia adalah darah yang ditemukan sebagaimana biasanya, maka ia tergolong darah haidh seperti masa di luar kehamilan” (Al-Mughniy : 1/408).

أما المالكية والشافعية وهو رواية عن الحنابلة واختارها شيخ الإسلام ابن تيمية والشيخ ابن العثيمين أن الحامل إذا نزل عليها الدم يعتبر حيضا بناء على الأصل, واحتجوا لذلك بعموم الأدلة التي جاءت في الحيض, فلم تستثن في الحكم المرأة الحامل

“Sedangkan Malikiyyah, Syafi’iyyah, sebuah riwayat dari Hanabilah, pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh ibnu al-Utsaimin: bahwa wanita hamil apabila keluar darinya darah maka dianggap darah haidh berdasarkan kepada hukum asal darah haidh, dan para ulama tersebut berdalil dengan keumuman dalil-dalil dalam masalah haidh tanpa terkecuali wanita yang sedang hamil” (Al-Fiqh al-Muyassar: 1/150).

Berdasarkan pendapat ini, wanita hamil jika melihat darah keluar dari kemaluannya maka ia tergolong haidh, sehingga ia tidak sholat, puasa dan kewajiban lainnya.

Pendapat Kedua: Wanita hamil tidak akan mengalami haidh, hal ini merupakan pendapat Mazhab Hanafi, Hambali, Lajnah Da’imah dan selainnya,

فذهب الحنفية والحنابلة إلى أن الدم الخارج من الحامل هو دم علة وفساد وليس بدم حيض

“Mazhab Hanafi dan Hambali menyatakan bahwa darah yang keluar dari wanita yang sedang hamil adalah darah penyakit dan darah kotor, bukan darah haidh” (Al-Fiqh al-Muyassar: 1/150).

Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Mayoritas para Tabi’in seperti: Sa’id ibnul Musayyib, ‘Atho, Al Hasan, Jabir bin Zaid, Ikrimah, Muhammad ibnul Munkadir, Asy-Sya’biy, Makhul, Hammad, As-Tsauri, Al-Auza’I, Ibnul Mundzir, Abu Ubaid dan lainnya (Al-Mughniy: 1/407).

Sehingga, berdasarkan pendapat ini, jika wanita hamil melihat darah yang keluar dari kemaluannya, maka bukanlah darah haidh, sehingga ia tetap wajib sholat, puasa dan kewajiban lainnya, namun ia diwajibkan berwudhu setiap akan melakukan sholat fardhu.

Pendapat yang Rajih/kuat: Dari 2 pendapat yang ada, syaikh As-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnah menyatakan:

والصواب في هذا أن يقال: إن الأصل والقاعدة العامة الغالبة أن الحامل لا تحيض, لكن قد تشذ امرأة فينزل بها دم وهي حامل فينظر في هذا الدم فإن كان كدم الحيض لونا ورائحة وطبيعة وفي وقت الحيض فإنه يعد حيضا تترك له الصلاة والصوم ويعتزلها زوجها…

“Yang benar/kuat dalam masalah ini adalah: Hukum asal dan Kaidah umum yang dominan bahwa wanita hamil tidak mengalami haidh, akan tetapi sesekali bisa terjadi pada kasus yang langka dari beberapa wanita, sehingga keluar darinya darah pada saat ia sedang hamil, maka dilihat dulu keadaan darahnya: apabila seperti darah haidh secara warna, bau, kebiasannya, dan terjadi pada masa haidh, maka dianggap darah haidh, sehingga ia meninggalkan sholat, puasa dan hubungan suami istri karena hal tersebut…” (Shahih Fiqh as-Sunnah: 1/181).

2. Cairan/lendir bening, atau putih kekuning-kuningan

Jika yang keluar adalah cairan bening, atau putih kekuning-kuningan, maka ini biasanya merupakan cairan keputihan, para ulama menyebutkan dengan istilah ruthubah atau Ifrazat dan hukumnya pun diperselisihkan oleh para ulama dari 2 sisi:

Sisi Pertama: Apakah cairan keputihan najis? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan najis, dan ada pula yang mengatakan tidak najis, namun pendapat yang kami anggap kuat adalah yang menyatakan bahwa cairan keputihan tidaklah najis.

Dalilnya adalah: ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengikis (tanpa mencuci) sisa mani yang menempel pada baju Rasulullah ﷺ yang beliau gunakan untuk sholat, padahal mani tersebut telah bercampur dengan cairan/lendir yang keluar dari wanita (‘Aisyah) akibat berhubungan badan, sebagimana Hadits ‘Aisyah:

كنت أفرك المني من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم فيصلي فيه

“Saya pernah mengikis air mani yang menempel pada pakaian Rasulullah ﷺ, lalu beliau sholat dengan pakain tersebut (HR. Abu Daud: 317)

Sisi kedua: Apakah keluarnya cairan keputihan dapat membatalkan wudhu ? dalam masalah ini para ulama juga berbeda pendapat, namun pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan wudhu, sebagaimana yang dijelaskan Syaikh ibnul Ustaimin:

وأما رطوبة فرج المرأة فالقول بوجوب الوضوء منها أضعف من القول في وجوبها في الاستحاضة لأن الاستحاضة ورد فيها حديث, بخلاف رطوبة فرج المرأة, مع كثرة ذلك من النساء, والله أعلم

“Adapun cairan/lendir keputihan, maka pendapat yang menyatakan wajibnya berwudhu disebabkan keluarnya cairan ini lebih lemah dibandingkan pendapat yang menyatakan wajibnya berwudhu karena keluarnya darah Istihadhoh/darah penyakit, karena darah istihadhoh ada dalinya dari Hadits, sedangkan keputihan tidak tedapat hadits yang menyatakan demikian, padahal keputihan sangat banyak terjadi pada wanita (namun Rasulullah tidak mengatakan bahwa ia membatalkan wudhu)” (As-syarhul Mumti’ 1/530, Hamisy 2, dorar.net).

Jika cairan keputihan ini membatalkan wudhu, tentu saja akan menyulitkan bagi kaum wanita, padahal Allah ﷻ berfrman:

)… وما جعل عليكم في الدين من حرج…(

“dan Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran/kesulitan untukmu dalam agama” (QS. Al Hajj: 78).

Maka, dalam hal ini, yaitu jika yang keluar adalah berupa cairan bening atau putih kekuning-kuningan, wanita tersebut tetap wajib malaksanakan Sholat, puasa dan kewajiban lainnya sesuai kesepakatan para ulama.

Wallahu A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc., M.Kom (Alumni Lipia, Fakultas Syariah)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

]]>Batas Aurat Muslimah di Hadapan Wanita Non Muslimhttps://konsultasisyariah.com/34770-batas-aurat-muslimah-di-hadapan-wanita-non-muslim.html Thu, 25 Apr 2019 07:25:33 +0000https://konsultasisyariah.com/?p=34770

Aurat Muslimah di Hadapan Wanita Non Muslim

Bismillah, adakah pnjlsan/artkel ttg gk blhnya aurot qt ditampakkan kpd wanita non muslim? sp tahu ada pncerahan dr ustadz…soalnya ada yg brty jg bgmna bersalaman dgn wanita non muslim…sy gk bs jwb krn hrs dgn dalil

Dari : Ida Ummu Alvian

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah, wa ba’du.

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Satu mengatakan, wanita muslim tidak boleh menampakkan aurat dihadapan wanita non muslim. Kemudian pendapat kedua menyatakan boleh, sebagaimana wanita muslim boleh menampakkan aurat yang biasa ditampakkan dihadapan sesama muslimah.

Pendapat yang kedua ini lebih kuat –wallahua’lam-, berdasarkan keumuman ayat berikut:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ

Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada : suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan sesama mereka… (QS. An-Nur : 31)

Yang dimaksud “perempuan sesama mereka” adalah,

جميع النساء المسلمات وغير المسلمات ، والله أعلم

seluruh perempuan, baik muslimah maupun non muslimah. (Fatawa Lajnah Da-imah 17/288)

Disamping itu, dahulu di zaman Rasulullah ﷺ, para wanita Yahudi atau wanita musyrik lainnya, pernah masuk ke rumah para istri Rasulullah ﷺ, untuk suatu keperluan. Namun tak ada riwayat yang menerangkan bahwa, istri-istri Nabi ﷺ menutup aurat meraka dari pandangan wanita-wanita kafir tersebut. Padahal kita semua sepakat, istri-istri Nabi adalah kaum wanita yang paling bertakwa dan wanita yang paling mulia.
(Disarikan dari fatwa Syaikh Ibnu Baz :https://binbaz.org.sa/fatwas/6558/حد-عورة-المراة-المسلمة-مع-المراة-الكافرة)

Satu lagi dalil yang menguatkan kesimpulan ini adalah, hadis dari sahabat wanita bernama Asma’, putri Abu Bakr As Sidiq –radhiyallahu’anhuma– . Beliau berkata,

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّى وَهِىَ مُشْرِكَةٌفِى عَهْدِ قُرَيْشٍ اِذْ عَا هَدَ هُمْ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلعميَا رَسُولَ اللهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّى وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّىقَالَ نَعَمْ صِلِى أُمَّكِ

“Ibu saya datang kepada saya dan dia seorang musyrik diwaktu kaum Qureisymengadakan perjanjian damai dengan Nabi. Lalu saya menanyakan hal ini kepada Rasulullah ﷺ,

“Ya Rasulullah ﷺ… Ibu saya datang, dia ingin bertemu dengan saya. Bolehkah saya menjaga hubungan silaturahmi dengan ibu saya?”

“Ya Boleh, sambunglah silaturahmimu dengan ibumu.” (HR. Muslim)

Nabi tidak memerintahkan Asma’ untuk menutup auratnya dari penglihatan ibundanya. Padahal bisa dipastikan, dalam interaksi antara ibu dan anak pasti terlihat aurat yang wajar sesama wanita, seperti wajah, telapak tangan dan kaki.

Lembaga Fatwa Lajnah Da-imah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya: apakah wanita muslim harus memakai hijab saat berinteraksi dengan wanita kafir? Atau wanita muslim boleh berinteraksi dengan mereka sebagaimana layaknya interaksi mereka dengan umumnya wanita muslim ?

Berikut jawabannya :

فيه قولان لأهل العلم ، والأرجح : عدم الوجوب ؛ لأن ذلك لم يُنقل عن أزواج النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن غيرهن من الصحابيات حين اجتماعهن بنساء اليهود في المدينة والنساء الوثنيات ، ولو كان واقعاً لنُقل كما نُقل ما هو أقل منه

Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang lebih tepat, wanita muslim tidak wajib memakai hijab saat berinteraksi dengan wanita non muslim. Karena tidak ada riwayat yang menerangkan, bahwa istri-istri Nabi ﷺ atau para sahabat wanita, menutup hijab mereka pada saat mereka berkumpul dengan perempuan dari agama Yahudi atau penyembah berhala di Madinah. Andaikan mereka melakukan itu, tentu sudah ada riwayat yang menjelaskan… (Fatawa Lajnah Da-imah 17/287).

Ini menunjukkan bolehnya wanita muslim bersalaman dengan wanita non muslim. Karena aurat wanita bukanlah aurat di hadapan wanita lainnya, muslim maupun nonmuslim. Boleh bersentuhan wajar dan bersalaman.

Adapun aurat yang boleh tampak di hadapan sesama wanita, dijelaskan oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah,

ما فوق السرة وتحت الركبة، أما ما بين السرة والركبة فهو عورة للجميع لجميع النساء لا تراه المرأة، سواء كانت مسلمة أو غير مسلمة قريبة أو بعيدة

Pusar ke atas dan lutut ke bawah.
Adapun antara pusar dan lutut, adalah aurat untuk seluruh wanita. Tidak boleh diperlihatkan meski ke sesama wanita, baik muslim maupun non muslim, kerabat ataupun non kerabat.
(Sumber fatwa : https://binbaz.org.sa/fatwas/6558/حد-عورة-المراة-المسلمة-مع-المراة-الكافرة)

Sekian.
Wallahua’lam bis showab.

****

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

 

Tags:
#Ilmu Islam  # fikih hamil  # kaffarah  # nazar  # tidak mau hamil 

Read this on Konsultasisyariah
  Contact Us
  Baca.News.

67/2 Jambi Indonesia

Tel : + (88) - 8XX XXX
Mail : support@baca.news
Business Hours : 9:30 - 5:30

  Follow Us
Site Map
Get Site Map
  About

Baca.News Berita Indonesia dan Dunia Terkini Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Politik, Ekonomi, Travel, Teknologi, Otomotif, Bola