by

Bio Farma Buat ‘Rantai Dingin’ Distribusi Vaksin COVID ke 34 Provinsi

Wpberita Wordpress Theme

Jakarta – Sampai dengan Senin (23/8), Indonesia telah menerima lebih dari 202 juta dosis vaksin COVID-19 terdiri atas vaksin jadi dan bahan baku (bulk). Vaksin-vaksin siap pakai diolah dan didistribusikan oleh PT Bio Farma.

Sekretaris Perusahaan dan Juru Bicara PT Bio Farma Bambang Heriyanto menguraikan saat ini Indonesia telah memiliki ketersediaan vaksin sekitar 175 juta dosis vaksin jadi, atau hampir setengah dari kebutuhan yang ada. Adapun Bio Farma selain bertugas dalam hal penyediaan, juga menjalankan distribusi vaksin COVID-19. Sejauh ini, kata Bambang, Bio Farma telah menyalurkan lebih dari 114 juta dosis vaksin ke 34 provinsi di Indonesia.

“Awalnya hanya sampai tingkat provinsi, namun ditingkatkan ke level lebih dalam yaitu kabupaten/kota,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Selasa (24/8/2021).

Bambang menerangkan saat ini pada kemasan vaksin COVID-19 terdapat alat untuk membantu penelusuran, sehingga proses distribusi dan kuantitas vaksin yang disalurkan mudah terpantau. Fitur tersebut juga mencegah pemalsuan vaksin, karena semua telah terdata dengan baik.

Baca juga :  Yuk Datang ke Vaksinasi Massal TRANS7, Sudah Layani Ibu Hamil Loh

Bambang menerangkan setiap vaksin memiliki ketentuan dari BPOM maupun WHO dalam hal penanganannya.

“Kami menggunakan ‘manajemen rantai dingin’ selama seluruh proses untuk memelihara batas temperatur, agar kualitas vaksin tetap terjaga,” sebut Bambang.

Ia mengulas, untuk penyaluran vaksin Sinovac yang membutuhkan suhu penyimpanan 2-8 derajat Celcius, Indonesia telah memiliki rantai distribusi vaksin yang baik hingga pelosok. Selain itu, juga terdapat merek vaksin COVID-19 yang mengharuskan perlakuan khusus untuk menjaga kualitas, seperti Pfizer yang memerlukan suhu penyimpanan -70 derajat celcius.

Di samping itu, Bambang menyampaikan kapasitas distribusi menjadi tantangan di lapangan, karena jalur distribusi vaksin yang ada harus mengakomodir kebutuhan vaksin rutin sekaligus vaksin COVID-19 yang berjumlah besar.

“Karena itu, kami berkolaborasi dengan banyak pihak termasuk pemerintah daerah, terkait fasilitas penyimpanan dan penyaluran vaksin ini. Harapannya, setiap penjuru Indonesia segera tercukupi kebutuhan vaksinnya,” kata Bambang.

Ia menambahkan Bio Farma juga membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk menyiapkan vaksin bulk hingga siap digunakan. Waktu produksi ini meliputi masa karantina, pengolahan, uji mutu, dan sebagainya. Vaksin bentuk jadi tetap harus melalui pengawasan mutu dan menunggu terbitnya lot release dari BPOM.

Baca juga :  5 Kondisi Kuku Ini Menandakan Ciri-ciri Sudah Terpapar COVID-19

Untuk meningkatkan ketersediaan vaksin di Tanah Air, Bio Farma bersama institusi dalam negeri juga tengah melakukan riset pengembangan vaksin produksi lokal, yang diharapkan dapat diluncurkan pada tahun depan.

Terkait ketersediaan vaksin, dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD menguraikan Indonesia saat ini menggunakan lima produk vaksin. Setiap vaksin, kata dia, memiliki profil karakter yang berbeda, namun tujuannya sama, yaitu memberikan perlindungan.

“Semua merek efektif mencegah penularan, risiko sakit berat juga kematian akibat COVID-19. Karena itu, tidak perlu pilih-pilih vaksin. Vaksin terbaik adalah yang tersedia saat ini. Yang akan mengendalikan pandemi adalah kekebalan masyarakat, jadi makin banyak yang divaksin, makin baik. Segera vaksinasi, segera terlindungi. No one is safe until everyone is safe,” ujar dr. Dirga.

Baca juga :  Dubes Bantah Pesanan Vaksin Nusantara, Turki Malah Bikin Vaksin Sendiri

Diungkapkan dr. Dirga, musuh utama percepatan vaksinasi adalah informasi yang salah yang beredar di tengah masyarakat.

“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, kita semua harus bergerak untuk melawannya. Yang sudah divaksin, berikan contoh bagi yang lain,” seru dr. Dirga.

Dokter sekaligus Influencer dr. Nadia Alaydrus menimpali, influencer sangat berperan untuk menyebarluaskan informasi-informasi yang benar kepada masyarakat, dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial. Dengan bantuan media sosial, jangkauan penyebaran informasi menjadi lebih luas dan bentuk edukasi dapat dikemas menarik melalui konten-konten kreatif.

Ia menilai vaksin memberikan lebih banyak manfaat, dibandingkan KIPI yang sifatnya hanya sementara.

“Selain itu, efek vaksin bukan untuk satu orang, melainkan untuk komunitas. Penting untuk menyadarkan orang-orang sekeliling kita bahwa kita sedang memerangi virus. Harus disiplin protokol kesehatan dan segera melakukan vaksin,” sebut dr. Nadia.

(mul/up)


Tema WordPress Berita

Source Link : bacaHealth.

PROMO Paket Desainweb Terbaik, Gratis Hosting Selama 5 Tahun

Comment

Leave a Reply

News Feed