by

Bahaya mutasi virus baru lokal di balik ledakan kasus Covid-19

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan terjadinya mutasi virus baru lokal yang berbahaya di balik tren peningkatan kasus Covid-19 saat ini. Mutasi ini secara teori memang bisa terjadi seiring karakter virus yang terus beradaptasi dengan kondisi lingkungan penularan.

Pakar epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, kondisi pandemi Covid-19 yang tak terkendali menjadi salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan mutasi baru virus ini muncul. Dia menyebutkan, mutasi virus ini memang proses alamiah yang terjadi seiring kondisi penyebaran Covid-19.

Menurut Dicky, memang tak semua proses mutasi dapat menimbulkan varian baru yang lebih berbahaya. Namun, lanjutnya, yang patut dikhawatirkan adalah dari berkembangnya proses mutasi tersebut, pada akhirnya bisa muncul satu varian virus yang lebih dominan ketimbang varian lainnya.

“Pada kondisi pandemi yang tak terkendali di suatu negara, varian baru ini bahkan bisa muncul setiap minggu, tapi belum tentu varian yang merugikan. Hanya saja mutasi bisa membuat virus itu semakin efektif menyebar dan menginfeksi, serta mendominasi varian-varian lainnya,” kata Dicky kepada Lokadata.id, Kamis (29/7/2021).

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini setidaknya telah ditemukan delapan varian baru Covid-19. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya didefinisikan WHO sebagai Variant of Concern (VoC) dan sisanya Varian of Interest (VoI).

Baca juga :  Aksi Dugaan Menista Agama Youtuber Muhammad Kece Bikin Emosi? Psikolog Beri Saran

Data WHO yang lebih rinci menunjukkan, sejumlah mutasi yang masuk kategori VoC ini, di antaranya: Alpha B117 (pertama kali ditemukan di Inggris), Beta B1351 (Afrika Selatan), Gamma P1 (Brazil), dan Delta B1617 (India).

Menurut WHO, masing-masing mutasi VoC ini telah memiliki sejumlah turunan varian, kecuali Alpha. Sementara untuk mutasi kategori VoI, antara lain: Eta B1525 (ditemukan di sejumlah negara), Iota B1526 (Amerika Serikat), Kappa B16171 (India), dan Lambda C37 (Peru).

varian baru Covid-19
Kandidat PhD bidang Global Health Security and Pandemic

WHO mendefisinikan mutasi VoC memiliki karakter yang lebih menular, tingkat klinis penyakit yang lebih parah, dan penurunan efektivitas obat, terapi, dan vaksin. Definisi VoI mengacu pada karakter virus yang memiliki perubahan genetik, diperkirakan sebagai penyebab penularan sejumlah klaster, dan memiliki dampak epidemiologis.

“VoC dan VoI ini punya kemampuan cepat dan mudah untuk menginfeksi, angka reproduksinya tinggi, dan akan meningkatkan kasus infeksi ringan hingga berat. Mutasi ini juga bisa meningkatkan kematian bukan secara tidak langsung karena proporsi orang yang sakit jadi meningkat di setiap kelompok usia,” kata Dicky Budiman.

Menurut Dicky, varian baru Covid-19 lokal sangat mungkin terjadi Indonesia mengingat situasi penyebaran Covid-19 yang belum terkendali. Kondisi ini, katanya, dibuktikan dengan rasio kasus positif Indonesia (positivity rate) yang belum pernah konsisten di bawah 10 persen.

Baca juga :  Jadi Syarat Masuk Mal, Jasa Cetak Sertifikat Vaksin COVID-19 Banjir Order!

Namun, menurut Kandidat PhD bidang Global Health Security and Pandemic ini, keberadaan varian baru lokal belum bisa banyak ditemukan lantaran kemampuan pengurutan keseluruhan genom (whole genome sequencing) yang terbatas. “Kapasitas kita masih terbatas dan itu juga mahal,” katanya.

Dia pun mengatakan, untuk mencegah terciptanya varian lokal yang bisa lebih berbahaya, sejumlah upaya harus dimaksimalkan pemerintah Indonesia, antara lain: peningkatan rasio tes lacak isolasi, penguatan protokol kesehatan, dan percepatan vaksinasi.

Mengutip KompasKepala Pusat Genom Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Safarina G Malik menyebutkan, lembaganya telah menemukan kasus varian turunan dari mutasi Delta AY.1. Dia menyebutkan, varian itu pertama kali diidentifikasi dari sampel spesimen di Mamuju, Sulawesi Barat.

Menurut Safarina, sampai saat ini belum diketahui tingkat penularan dari turunan mutasi Delta tersebut. Namun, berdasarkan data dari India, mutasi turunan tersebut tidak lebih menular daripada Delta. Eijkman juga menemukan kasus varian Kappa pada sejumlah sampel dari daerah Sumatera Selatan dan Jakarta, Januari dan April lalu.

Baca juga :  Wajib Vaksin COVID-19, Anak dan Lansia Dilarang Masuk!

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes) per Sabtu (24/7) varian Delta merupakan jenis mutasi paling dominan dengan jumlah kasusnya sebanyak 897 kasus. Ratusan kasus varian Delta ini diperoleh berdasarkan hasil pengurutan keseluruhan genom terhadap 3.047 spesimen.

Varian lokal Indonesia

Selain memantau perkembangan VoC dan VoI, WHO juga memperhatikan secara khusus kehadiran varian lokal Indonesia, yakni B14662 yang ditemukan 28 April lalu. Menurut WHO, mutasi ini mendapatkan perhatian khusus karena memiliki perubahan genetik yang mengindikasikan dapat menimbulkan risiko di masa depan, tetapi belum memiliki dampak epidemiologi serta perlu diteliti lebih lanjut.

Dikonfirmasi soal varian lokal tersebut, Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini B14662 memiliki jumlah kasus sekitar 924 spesimen. Dia menyebutkan, ratusan kasus itu sudah ditemukan di 26 provinsi di Indonesia, kecuali Gorontalo, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Menurut Nadia, sejauh ini belum ditemukan apakah varian B14662 itu memiliki karakter lebih menular seperti sejumlah varian VoC lainnya. “Namun, kami akan pantau terus perkembangannya,” kata Nadia kepada Lokadata.id.

PROMO Paket Desainweb Terbaik, Gratis Hosting Selama 5 Tahun

Comment

Leave a Reply

News Feed